This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, December 5, 2016

Analisa AUD/USD: Pembacaan Inflasi Dan RBA Dalam Sorotan

AUD/USD harga saat ini: 0,7450

Pasangan AUD/USD menutup minggu datar di 0,7450, setelah turun tajam Rabu lalu, karena industri logam anjlok di Asia setelah bursa di negara itu menurunkan batas perdagangan harian dan menaikkan persyaratan margin dalam upaya untuk mengekang spekulasi. Sebuah pemulihan di logam dan angka tenaga kerja AS yang beragam membantu pasangan untuk memulihkan beberapa kekuatan, meskipun kenaikan lebih lanjut akan tergantung pada sikap RBA Selasa ini. Bank Sentral Australia akan memiliki kebijakan ekonomi Selasa depan, sementara Senin pagi University of Melbourne akan merilis perkiraan inflasi untuk November. RBA sebagian besar diperkirakan akan tetap tertahan, karena inflasi telah menunjukkan beberapa tanda-tanda peningkatan, sementara Gubernur Lowe sejauh ini menawarkan pendekatan hati-hati untuk setiap penurunan suku bunga lebih lanjut. Secara teknis, grafik harian menunjukkan bahwa harga belum mampu membangun di atas bearish DMA 20 yang berdiri beberapa pips di atas level saat ini, sementara indikator teknis mengarah ke utara, namun di dalam wilayah bearish. Dalam grafik 4 jam, indikator Momentum mengarah tajam lebih tinggi di atas level 100, sementara harga berdiri di atas SMA 20 yang datar dan indikator RSI melayang di sekitar 56, mendukung beberapa kenaikan tambahan dalam jangka pendek menuju wilayah 0,7500.

audusd

Level support: 0,7410 0,7370 0,7330

Level resisten: 0,7495 0,7540 0,7580

Sunday, December 4, 2016

TRADING FOREX MIRROR PASTI PROFIT DAN JITU 100%

Selamat Malam Rekan Trader Nasional

Bersama ini kami kenalkan strategi main forex dengan Trading With Mirror, ini adalah kita menggunakan selisih range pair EURUSD dan USDCHF untuk lebih jelasnya saya kirim gambar - gambarnya :











Hormat saya
Arief FX

Salam Green Profit


Robot Forex 300% Per Weekly

Selamat Malam Rekan Trader Nasional

Bersama ini kami ingin mengenalkan Robot Forex Extrem Profit 300% Per Minggu, Wah ini penemuan yang sangat luar biasa rekan Trader, Saya Uji selama Berbulan - bulan alhasil tidak mengecewakan dengan Resiko Medium tetapi High profit tentunya, silahkan diorder sebelum kehabisan karena sebenarnya EA ini tidak saya share ke publik tetapi niat saya membantu sesama maka saya share dengan 10 Unit saja, setelah terpenuhi saya close karena takut Brokernya pada Rugi hehehe...EA ini tidak ada masa expired dan berlaku selamanya bisa diedit codingannya sesuai dengan selera jika EA ini dinilai masih High Risk silahkan Edit Programnya tidak ada masalah.

Mari kita ciptakan Trading Forex dengan Nyaman dan pastinya Green Profit, merah tidak apa - apa asalkan SL+, baik jika ada yang berminat silahkan hubungi kami di 081329827871 dan akan kami kirim via email dengan settingan - settingan yang sudah kami uji coba sebelumnya
Price Only $200 atau Rp 2.000.000,- Kurs $1 = Rp 10.000,-

Hormat Saya
Arief FX

Salam Green Profit,Enjoy ur Trading and Freedom for Financial

Mengupas Tuntas Moving Average Indikator Paling Akurat 100%

MA sendiri merupakan indikator berjenis trend, yaitu indikator yang digunakan untuk menentukan trend yang sedang terjadi di market. Penggunaannya sangat luas bukan saja dalam dunia forex, jika Anda pernah bermain saham dan menggunakan analisa teknikal, maka pasti MA juga digunakan disana. Toh memang analisa teknikal bersifat universal dan dapat digunakan dalam sfemua market yang menggunakan data kolektif.
MA juga dapat diturunkan lagi menjadi indikator baru dan benar-benar berbeda dengan indikator aslinya. Jika nanti Anda mulai mempelajari MACD (Moving Average Convergence Divergence) maka Anda akan mengetahui bahwa indikator satu ini pun asalnya juga dari MA (lihat saja namanya).
Moving average mempunyai tiga varian yang berbeda yaitu Simple Moving Average, Weighted Moving Average dan Exponential Moving Average. Masing-masing merupakan metode rata-rata bergerak, hanya saja cara me-rata-ratakannya yang berbeda satu sama lain. Namun dalam pembacaannya tetaplah sama dan semuanya mengiktui aturan yang berlaku pada Moving Average. Kenyataannya sejak awal tahun 2000 an, Moving Average bukan saja berkembang dalam 3 varian saja tetapi menjadi lebih dari 5 varian yang disesuaikan dengan kegunaannya saja. Namun untuk mempersempit ruang pembahasan sekaligus memudahkan Anda dalam menginterprestasikan MA, pembahasan hanya difokuskan pada ketiga jenis MA.
 
Simple Moving Average (SMA)

Simple Moving Average (atau biasa disebut Moving Average saja atau juga disingkat SMA) adalah Moving Average paling sederhana dan tidak menggunakan pembobotannya dalam perhitungan terhadap pergerakan closing price.

Perhatikan gambar Simple Moving Average dengan periode 10 berikut:
 
moving_average

Meskipun sederhana, SMA cukup efektif dalam menentukan trend yang sedang terjadi di market. Cara pembacaannya pun sederhana.
Secara garis besar MA dapat digunakan untuk hal-hal berikut:
  1. Menentukan trend yang akan terjadi.
  2. Menentukan  titik support dan resistance.
  3. Memuluskan indikator lain yang terlalu bergerigi.
Aplikasi MA paling banyak digunakan untuk memprediksi arah trend sedangkan kegunaan no 2 dan 3 tidak terlalu banyak digunakan. Kali ini kegunaan MA akan dititik beratkan pada kegunaan utamanya yaitu untuk memprediksi trend. Sedangkan kegunaan no 2 akan dibahas pada artikel tersendiri yang akan disisipkan kemudian.

Sekarang mari kita perhatikan MA dengan periode 10 yang diterapkan pada GBP/USD periode 1 hari berikut ini:

alt

Perhatikan bagian yang telah diraster dengan warna biru. Ketika harga bergerak naik, MA berada dibawah dari pergerakan mata uang. Sebaliknya bila MA berpotongan dengan candlestick, trend naik berhenti dan dilanjutkan dengan situasi sideways. Atau ketika trend naik terjadi lalu kemudian MA menembus harga dan berpindah dari bawah menuju keatas, itu merupakan pertanda bahwa trend naik telah berakhir untuk kemudian dilanjutkan dengan trend turun.

Nah, bagaimana kalau kita menggunakan dua buah SMA dengan dua periode yang berbeda? Hasilnya akan sangat menarik. Kita akan segera tahu bagaimana hasilnya:

ma_15


Lebih memudahkan bukan? Dengan penggunaan dua SMA dengan dua periode yang berbeda kita dapat lebih akurat lagi memprediksikan kemana harga akan bergerak. Apabila telah terjadi perpotongan antara harga dengan kedua SMA maka akan dipastikan harga kan berubah arahnya. Pada gambar diatas, apabila MA dengan periode yang lebih kecil-yaitu periode 10 jika di gambar-berada dibawah dari MA yang periodenya lebih besar-pada gambar diwakili dengan periode 15-maka itu merupakan indikasi harga sedang dalam trend turun dan sebaliknya apabila periode lebih kecil di atas dari periode yang lebih besar maka trend mata uang sedang dalam tren naik.

Dapat kita catat juga bahwa apabila rentang antara kedua SMA semakin besar maka kemungkinan trend akan terus berlangsung dan bila mulai terjadi penyempitan jarak diantara keduanya dan sampai terjadi perpotongan kembali, bisa disimpulkan bahwa trend sudah berakhir. Mudah bukan?
Mengenai periode MA yang digunakan, sayangnya sampai saat ini belum ada aturan pencarian periode yang tepat untuk dipakai. Memang perlu banyak-banyak berlatih dan mencoba (trial and error). Perlu Anda catat bahwa penggunaan periode dapat berubah-ubah menurut kebutuhan meskipun pada  pair yang sama karena memang kondisi sebuah mata uang adalah dinamis dari waktu kewaktu. Namun berdasarkan pengalaman, disarankan periode yang digunakan tidak lebih besar dari 40. Ini dimaksudkan agar MA tidak kehilangan sensitivitasnya sebagai indikator penentu trend.

Semakin besar periode dari MA maka kurva MA yang dihasilkan akan semakin lebar dan tidak sensitif dalam mengakomodasi perubahan harga. Sebaliknya, semakin kecil periode MA maka kurva MA yang dihasilkan menjadi semakin semakin sensitif. Dalam hal ini terlalu sensitif atau tidak sensitif sama sekali bukanlah hal yang baik. Semakin sensitif sebuah kurva MA maka semakin sering sinyal palsu dihasilkan dan membuat trading kita loss. Sebaliknya, semakin tidak sensitif maka sinyal beli atau jual menjadi semakin sedikit yang mengakibatkan kita tidak dapat bertrading.

Nah, lebih lengkapnya telah disarikan oleh BelajarForex mengenai penggunaan SMA untuk membaca trend dalam bentuk tabel sbb:
 

No
Posisi SMA
Arti
1
SMA berada dibawah harga.
Kondisi bullish / trend naik.
2
SMA berada diatas harga.
Kondisi  bearish / trend menurun.
3.
SMA memotong harga dari atas.
Perubahan trend menuu bullish.
4.
SMA memotong harga dari bawah.
Perubahan trend menujubearish.
5.
SMA periode lebih pendek memotong
SMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menujubullish.
6.
SMA periode lebih pendek memotong
SMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menujubearish.
7.
SMA dengan periode lebih panjang berada diatas SMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bearish / trend menurun.
8.
SMA dengan periode lebih panjang berada dibawah SMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik.

Nah itu penjelasan ringkas mengenai Moving Average. Jangan lupa untuk membaca artikel lain dari website ini untuk memperluas pengetahuan analisa Anda.

Weighted Moving Average (WMA)

Pertanyaan pertama yang timbul di benak kita adalah apakah perbedaan SMA dengan WMA? Tentu saja ada perbedaannya. Cukup berbeda sehingga diklasifikasikan menjadi dua bagian. Tidak cukup banyak berbeda sehingga nama mereka mirip karena menggunakan metodologi yang sama, hanya caranya yang berbeda.

Bayangkan begini: Manakah harga yang memiliki bobot penekanan yang lebih besar dalam memprediksi harga didepan, harga satu jam terakhir yang kita miliki atau harga dua bulan lalu yang kita miliki? Tentu saja yang satu jam terakhir. Paling tidak pergerakan harga tidak satu jam terakhir akan lebih representatif dalam memprediksi harga didepan apabila dibandingkan dengan harga dua bulan yang lalu.

Atau jika kita aplikasikan dengan kehidupan sehari-hari, ambillah kita akan membeli sebuah telepon genggam. Tentu saja kita akan mencari tahu harga telepon genggam tersebut dalam rentang waktu terakhir. Nah, mungkin kita akan lebih memperhatikan harga satu hari yang lalu dibandingkan harga dua minggu yang lalu karena menurut hemat kita pastilah pergerakan harga tidak akan berbeda jauh dengan harga satu hari lalu.

Bobot penilaian inilah yang diatur oleh WMA. Pada SMA, bobot setiap harga baik dua minggu lalu atau pun dua hari yang lalu memiliki bobot penilaian yang sama. Pada WMA data terakhir memiliki bobot yang lebih besar nilainya dibandingkan harga-harga sebelumnya.

Pembobotan nilai pada WMA akan tergantung pada panjang periode yang kita tetapkan. Semakin panjang periode yang ditetapkan, maka semakin besar pula pembobotan yang diberikan pada data terbaru.

Secara keseluruhan, peraturan pada WMA adalah sama seperti pada SMA karena memang cara perhitungannya sama hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja. Berikut ringkasannya:
No
Posisi WMA
Arti
1
WMA berada dibawah harga.
Kondisi bullish / trend naik.
2
WMA berada diatas harga.
Kondisi bearish / trend menurun.
3.
WMA memotong harga dari bawah.
Perubahan trend menuju bearish.
4.
WMA memotong harga dari atas.
Perubahan trend menuju bullish.
5.
WMA periode lebih pendek memotong
WMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menuju bulish.
6.
WMA periode lebih pendek memotong
WMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menuju bearish.
7.
WMA dengan periode lebih panjang berada diatas WMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bearish / trend menurun.
8.
WMA dengan periode lebih panjang berada dibawah WMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik.

Gambar dibawah ini adalah aplikasi dalam memprediksi trend yang akan terjadi dengan menggunakan WMA. Cara penggunaannya sama persis dengan penggunaan pada SMA. Perhatikan perbedaan SMA dengan WMA berikut ini:

alt
Dan dibawah ini pemakaian WMA dengan dua periode yang berlainan:

alt
 
Terlihat WMA lebih responsif dalam memprediksi perubahan trend pada GBP/USD. Setiap titik peralihan trend tepat berada pada candlestick terakhir trend yang sedang berlangsung. Perhatikan juga pada gambar di atas akan terjadi kembali perubahan trend dari bullish menuju bearish. Dalam hal ini pemilihan periode yang tepat juga berpengaruh pada presisi penentuan trend.
Nah, sampai disini kita sudah mengetahui bahwa pembobotan harga pada tiap-tiap rentang waktu yang berbeda nilainya juga berbeda. Namun, apakah metode pembobotan pada WMA merupakan metode pembobotan yang paling cepat dalam memberikan perubahan trend? Tidak. Pada WMA pembobotan dilakukan tidak menyertakan nilai WMA sebelumnya. Pada bagian setelah ini kita akan melihat metode rata-rata bergerak yang melibatkan fungsi eksponensial dalam melakukan pembobotannya. Hasilnya adalah pemberian sinyal peralihan yang dapat lebih dini.

Exponential Moving Average (XMA).

XMA merupakan penyempurnaan dari metode SMA. Seperti kita ketahui bahwa pembobotan SMA merupakan penyebab yang mengakibatkan terjadinya keterlambatan sinyal perubahan trend. Pemberian bobot pada XMA sama seperti juga pada WMA, melibatkan periode. Hanya saja perbedaannya jika pada WMA semakin panjang periode yang kita gunakan maka semakin besar bobot nilai terakhirnya, maka pada XMA terjadi sebaliknya yaitu semakin panjang periode yang kita pakai maka semakin kecil pembobotan nilai terakhir yang kita pakai.

Secara keseluruhan, peraturan pada XMA adalah sama seperti pada SMA karena memang cara perhitungannya sama hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja. Berikut ringkasannya: 
No
Posisi XMA
Arti
1
XMA berada dibawah harga.
Kondisi bullish / trend naik.
2
XMA berada diatas harga.
Kondisi bearish / trend menurun.
3.
XMA memotong harga dari bawah.
Perubahan trend menuu bearish.
4.
XMA memotong harga dari atas.
Perubahan trend menuju bullish.
5.
XMA periode lebih pendek memotong
XMA periode lebih panjang dari bawah.
Perubahan trend menuju bullish.
6.
XMA periode lebih pendek memotong
XMA periode lebih panjang dari atas.
Perubahan trend menuju bearish.
7.
XMA dengan periode lebih panjang berada diatas XMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bearish / trend menurun.
8.
XMA dengan periode lebih panjang berada dibawah XMA berperiode lebih pendek.
Kondisi bullish / trend naik.

Nah, gambar dibawah ini adalah aplikasi dalam memprediksi trend yang akan terjadi dengan menggunakan XMA. Cara penggunaannya sama persis dengan penggunaan pada SMA.

Gambar dibawah ini adalah penggunaan XMA periode 10 pada grafik GBPUSD.
  
alt
Dan sama seperti MA lainnya, XMA pun lebih sering digunakan dengan menggunakan 2 periode yang berlainan:
  
alt


SMA, WMA, XMA Mana yang Lebih Baik?

Nah ini mungkin pertanyaan terakhir yang tersisa dari pembahasan Moving Average kita. Manakah diantara varian indikator MA ini yang paling baik?

Dilihat dari pemberian sinyal bullish atau bearish memang XMA merupakan indikator yang dapat memberikan sinyal yang lebih dini dibanding keduanya. Tentu saja demikian karena toh XMA memang diciptakan untuk mengeleminir kekekurangan varian MA pendahulunya. Tapi jika pertanyaannya adalah mana yang lebih baik, ini menjadi sangat relatif bergantung pada si pemakai.

Sebagai panduan, semakin sensitifnya sebuah indikator memang akan menjadi sangat membantu untuk memprediksi harga. Namun sebaliknya, semakin sensitif maka akan semakin banyak juga false signal yang dihasilkan yang artinya bisa saja sinyal yang diberikan ternyata salah atau tidak berlangsung lama. Itu sebabnya kembali bergantung pada sang trader.

Jika Anda adalah seorang yang lebih menyukai permainan yang lebih “safe”, mungkin SMA menjadi lebih cocok dibandingkan varian lainnya. Dan sebaliknya bila Anda menyukai permainan yang lebih beresiko (yang juga berari kemungkinan memperoleh keunutungan akan sama besarnya dengan  resiko yang mungkin terjadi) maka XMA akan lebih baik menurut Anda karena lebih responsif dan lebih cepat dalam pemberian sinyal. Jika Anda seorang penganut “poros tengah”, silakan gunakan WMA. Yang jelas indikator hanyalah sebuah instrumen, kitalah yang menentukan keputusan berdasarkan petunjuk instrumen tersebut.

Sebenarnya jika dilakukan perhitungan melalui Mean Percentage Absolute Error (MAPE), maka XMA akan memberikan error yang lebih kecil dibandingkan yang lainnya. Namun tetap saja bukan berarti XMA adalah absolut yang terbaik. Saya sengaja tidak mencantumkan perhitungan dengan MAPE karena memang sangat relatif.

Kita akan bertemu pada bab berikutnya untuk perhitungan dengan menggunakan indikator lainnya. Sampai jumpa

Cara Menentukan Titik Resisten dan Support pada Forex yang Benar dan Mudah

Anda tentu dapat menebaknya. Harga turun seketika. Tunggu menunggu pun terjadi. Dari profit $ 2 menjadi -$10 lalu -$ 20 hingga akhirnya genaplah sudah menyentuh Stop Loss saya di 1.0220. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Saya menerima dengan lapang dada kerugian $ 50 itu. Hahaha.. Anda juga boleh tertawa koq. 
Ternyata itulah titik teratas dari USDCHF pada saat itu. Meski akhirnya harga sempat berbalik ke 1.0262 dan turun hingga kini di 1.0150. 
O ya itulah yang dinamakan batas atas USDCHF pada momen tersebut. Batas atas dari pergerakan harga disebut Resistance dan ada juga kebalikannya yaitu Batas Bawah pergerakan harga. Batas Bawah sering disebut disebut Support. 
Jadi sederhananya dengan kita mengetahui dimanakan  titik Support dan Ressistance pergerakan harga, kita dapat mengetahui apabila harga sedang bergerak naik maka sampai dimanakah trend kenaikan berlangsung dan kemudian berbalik arah. Demikian juga kebalikannya bila harga bergerak turun.

Menentukan Support dan Ressistance
Ada 3 (tiga) cara menentukan Support & Resistance yaitu :
1. Titik tertinggi dan terendah dalam suatu periode.
Nah ini adalah cara yang paling sederhana. Ada juga yang menyebutnya sebagai metode klasik berhubung cara menentukannya cukup dengan menarik garis horizontal secara manual semata-mata. 
Tapi jangan anggap sepele metode klasik ini karena bahkan hingga hari ini metode menarik garis manual seperti ini masih banyak digunakan oleh analis teknikal kawakan.
Lantas, bagaimana caranya? 
Hal pertama yang perlu Anda pahami dengan menggunakan cara klasik seperti ini adalah Anda harus mengetahui history pergerakan tertinggi dan terrendah dari pasangan mata uang yang sedang Anda analisis pada periode waktu tertentu. Periode yang dipilih haruslah tidak boleh terlalu panjang supaya rentang support dan ressistance jangan terlalu besar namun juga tidak boleh terlalu pendek sehingga menyulitkan kita menentukan kapan harus mengambil posisi berhubung jarak antara Sup-Res yang terlalu pendek. 
Nah begini contohnya: misal GBPUSD pada Time Frame 1 jam mempunyai titik tertinggi di 1.9750 dan terendah di 1.9670. Maka Resisten GBPUSD untuk 1 jam adalah 1.9750 dan Support di 1.9670. Mudah bukan? 
Sekarang mari perhatikan gambar berikut ini:
sup-res1.png















Ya, ya, memang gambarnya kecil sekali sehingga angka-angkanya tidak kelihatan. Ini adalah grafik GBPUSD dengan TF 4 Jam. Pada saat gambar ini diambil, GBPUSD sedang berada di 1.9699 dan seperti telah Anda lihat pada gambar, kita memiliki beberapa history harga tertinggi dan terrendah. Dengan demikian pada titik-titik inilah kita menarik garis secara manual (garis biru dan merah) sebagai batas titik support dan resistance. 

2. Simple Moving Average Periode Besar
Apakah Anda tahu indikator Moving Average? Indikator ini biasanya digunakan untuk memprediksi trend pergerakan harga. Namun apabila Anda mengeplotnya dalam periode yang lebih besar maka MA dapat berguna sebagai garis Support atau Resistance harga. Dan kelebihannya dibandingkan dengan metode klasik seperti contoh sebelumnya adalah garis support atau resistance ini bersifat dinamis mengikuti pergerakan harga. Menarik bukan? 
Mari kita lihat MA periode 100. Garis yang ditunjukan oleh MA 100 adalah Resistance untuk GBPUSD pada sebuah Time Frame.
sup-res2.png
  












Terlihat Resistance dari GBPUSD pada Time Frame 1 jam adalah pada 1.9883 sesuai dengan garis Moving Average yang terakhirnya. Namun sayangnya metode ini tidak dapat menentukan garis Support dan Resistance, hanya dapat salah satunya saja entahkah Supportnya atau Resistancenya saja. Dalam contoh kita kali ini kita dapat mengetahui titik resistance dari harga namun tidak supportnya. Anda harus menggunakan metode lain untuk mencari support.

3. Fibonacci Retracement.
Fibonacci Retracement merupakan salah satu cabang dari  analisa teknikal dengan menggunakan deret Fibonacci. Hampir semua varian dari Fibonacci Analysis memang bertujuan untuk mengetahui titik Support dan Resistance dari pergerakan harga. Kali ini kita hanya akan membahas varian pertama sekaligus yang paling dasar dari Fibonacci yaitu Fibonacci Retracement. Apabila Anda tertarik mengetahui lebih lanjut varian-varian Fibonacci lainnya, silakan mempelajarinya pada CD Fibonacci yang telah kami sediakan. Anda dapat menemukannya pada Menu Produk di website Belajar Forex ini.
Anda juga dapat membaca artikel khusus mengenai Fibonacci pada Belajar Forex. Ikuti link berikut: 
Fibonacci Retracement yang digunakan dapat berupa harga High Close atau harga pada titik Close. Perhatikan gambar berikut ini:
sup-res3.png






   



    


Informasi dari Gambar 2 adalah :
S1        : 1.9650
R1        : 1.9935
R2        : 2.0023
R3        : 2.0111
R4        : 2.0397
Titik 1.9650 dapat disebut juga titik psikologis. Harga mengalami pergerakan karena ditentukan oleh Demand dan Supply (Permintaan dan Penawaran). O ya, omong-omong saya akan berikan sedikit petunjuk tentang situasi harga GBPUSD pada tanggal 8 April 2008 yang lalu. Pasar memang terlalu sensitif terhadap mata uang GBP karena BoE (Bank of England) secara diplomatis berbicara kepada publik bahwa mereka akan memangkas suku bunga lokal. Alhasil banyak pelaku "Profit Taking" menjual mata uang GBP. Kondisi tersebut terkait dengan hukum Demand-Supply yaitu saat penawaran banyak dan permintaan tetap maka mata uang akan melemah dikarenakan banyaknya supply yang beredar di pasar.
Memang harga mulai turun. Dan saya pun merasakan gurihnya mengambil posisi Sell GBPUSD di 1.9885 pada 8 April 08 malam dan Close posisi di 1.9869 pada tanggal 9 April pagi. Yah cukuplah 16 poin buat satu hari. Hehehe. Daripada harga koreksi keatas, lebih baik ambil rezeki yang ada. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.
Ok, kemungkinan terbesar banyak yang mengambil posisi Sell GBPUSD pada saat malam hingga pagi hari. Tapi biasanya para trader juga mengantisipasi berakhirnya trend dengan mengambil sebuah titik support tertentu. Pada titik itu mereka tidak lagi melakukan aksi Sell tapi sebaliknya mereka akan melakukan aksi profit taking dengan membeli mata uang yang telah mereka jual sebelumnya. Nah jikalau semua orang melakukan hal demikian secara otomatis penawaran berkurang dan penurunan mata uang mulai kehilangan tenaganya. Akibatnya, harga kembali bergerak naik.
Dalam kondisi tertentu, titik support dan resistance dapat ditembus oleh pergerakan harga. Memang sulit untuk menembus dinding-dinding Support dan Resistance yang telah terbentuk. Saat penjual menang dan pembeli sedikit, tentu saja harga dapat kembali terus turun meskipun sudah mencapai titik supportnya. Ketika harga menembus titik support dan resistance maka akan terbentuk titik support dan resistance yang baru. Titik support yang tertembus akan menjadi titik ressistance dan setelah itu akan terbentuk titik support terbaru.
Saya perkenalkan Anda pada sebuah istilah yang bernama Pivot Poin. Pivot Poin adalah sebuah titik dimana pergerakan harga tak akan bergerak jauh dari titik tersebut. 

4. Dengan Metode Pivot Points
Metode terakhir sekaligus menjadi PR untuk Anda coba sendiri adalah dengan menggunakan sederetan rumus sebagai penentu titik support dan resistence dari harga. Rumus-rumus ini biasa disebut sebagai Pivot Points.
Cara menghitung Pivot points
Pivot levels diturunkan dari harga High, Low, Close di hari sebelumnya. Pivot points terdiri dari 5 levels:
R2 - Resistance kedua
R1 - Resistance pertama
PP - Pivot Point
S1 - Support pertama
S2 - Support kedua
Juga ada level tambahan seperti R3, S3, dan mid-points.
Contoh, data O, H, L, C dari GBPUSD dengan periode D1
Open 1,9690
High 1,9725
Low 1,9640
Close 1,9680
PP = (O + H + L + C)/ 4
PP = (1.9690+1.9725+1.9640+1.9680)/4 = 1.9684
Sup 1 = (2 x P) - H = (2 x 1.9684) - 1.9725 = 1.9643
Sup 2 = P - (H - L) = 1.9684 - (1.9725 - 1.9640) = 1.9599
Res 1 = (2 x P) - L = (2 x 1.9684) - 1.9640 = 1.9728
Res 2 = P + (H - L) = 1.9684 + (1,9725 - 1,9640) = 1.9769
Setelah Pivot terpasang, yang harus dicatat:
1. Jika market open diatas Pivot maka diperkirakan market bullish, jika merket open dibawah Pivot diperkirakan market  bearish. Dan seberapa jauh harga open dari PP, atau jika open dibawah S1 atau diatas R1.
2. Jika open dibawah S1 atau diatas R1, maka diperkirakan harga akan mencoba koreksi terlebih dahulu sebelum bergerak searah dengan trend.
Nah ada banyak cara bukan? Silakan Anda mencobanya untuk mengetahui mana yang lebih cocok bagi diri Anda sendiri. Apabila ditanyakan metode yang mana yang terhaik, maka tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Setiap metode telah digunakan dan dilahirkan oleh para trader-trader diseluruh dunia dan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selamat mencoba!